Isra’ Mi’raj adalah
suatu peristiwa besar yang sekarang oleh sains dan teknologi diakui,
karena ternyata memang demikianlah yang bisa terjadi bahwa Rasulullah
benar-benar bergerak dari Mekkah ke Palestina, dan kemudian diteruskan
ke Sidratil Muntaha hanya dalam waktu tidak sampai satu malam. Sudut
pandang ilmiahnya bahwa ini adalah peristiwa fenomenal dan
kontroversial.
Fenomenasejarah bahwa peristiwa ini belum pernah terjadi dan diyakini takkan pernah terjadi lagi.
Pertama,
bahwa peristiwa ini sangat fenomenal dari segi sejarah, karena
sebelumnya tak pernah terjadi pada manusia. Sebelum Nabi Muhammad memang
pernah terjadi pada benda. Benda tersebut bisa berpindah tempat dari
satu tempat ke tempat yang jauh dalam orde sepersekian detik saja.
Itulah peristiwa berpindahnya singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba
ke Kerajaan Nabi Sulaiman. Waktu itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para
stafnya yang ketika itu memang sengaja dikumpulkan olehnya. Nabi
Sulaiman mengatakan kepada para stafnya untuk melakukan suatu kejutan
terhadap Ratu Balqis yang ketika itu sedang menuju ke kerajaan
Nabi Sulaiman. Ternyata Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu Balqis ke kerajaannya.
Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya siapa yang bisa melakukan hal tersebut.
Yang
mengajukan diri pertama kali adalah Jin Ifrit. Ditanya oleh Nabi
Sulaiman berapa lama ia bisa memindahkannya. Dijawab oleh Jin Ifrit
bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat
duduknya dijamin singgasana itu sudah sampai di hadapannya. Tentunya hal
ini sangat cepat, tapi ternyata Nabi Sulaiman belum puas akan hal
tersebut.
Kemudian Nabi Sulaiman bertanya lagi kepada para
stafnya siapa yang bisa lebih cepat melakukan hal tersebut. Yang
mengajukan diri kemudian ternyata adalah seorang manusia, yaitu manusia
yang menguasai ilmu dari al-Kitab. Orang itu kemudian ditanya oleh Nabi
Sulaiman berapa lama ia bisa melakukannya. Dijawab oleh orang itu bahwa
ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip lagi. Ternyata
memang benar adanya, sebelum Nabi Sulaiman berkedip, singgasana Ratu
Balqis sudah berada di hadapannya. Satu kedipan mata berarti waktunya
kurang dari satu detik. Berkaitan dengan Isra’ Mi’raj, ternyata
perjalanan Nabi Muhammad tersebut terjadi dalam waktu tidak sampai satu
kedipan mata pun.
Kedua,fenomenal dari
segi sains. Untuk menjelaskan Isra’ Mi’raj, ternyata kita harus menggali
ilmu-ilmu mutakhir. Kalau ilmu-ilmu lama mungkin tak cukup untuk
menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga di zaman itu orang
memersepsikan bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj
dengan mengendarai Buraq. Buraq itu kemudian ada yang menggambarkan
bentuknya seperti kuda yang bersayap, ada juga yang menggambarkan bahwa
kepala buraq itu menyerupai manusia, bahkan ada juga yang menggambarkan
kepala buraq itu berupa wanita cantik. Pemikiran seperti ini tentunya
khas abad pertengahan, karena perjalanan tercepat ketika itu adalah
dengan mengendarai kuda. Tapi kuda pun tak bisa secepat itu. Karena itu
digambarkanlah kuda itu bersayap.
Dengan pendekatan secara
saintifik dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya perpindahan Rasulullah
dari satu tempat ke tempat lain pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi
secara cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini tentunya kontroversial hampir
1500 tahun di kalangan agamawan maupun para saintis karena memang sulit
menjelaskannya. Selalu ada yang tidak percaya, ragu-ragu, dan ada juga
yang meyakininya sejak masa hidupnya Rasulullah hingga kini. Yang
ragu-ragu sampai sekarang tentunya masih ada, bahkan di kalangan umat
Islam sendiri. Ketika ditanya apakah perjalanan Nabi Muhammad dari
Mekkah ke Palestina itu dengan badannya atau bukan. Ada yang mengatakan
bahwa itu hanya penglihatan saja. Ada juga yang mengatakan bahwa itu
hanya ruh saja. Ada yang mengatakan itu hanya mimpi. Dan ada yang
mengatakan bahwa peristiwa itu memang dialami Nabi Muhammad dengan
badannya.
Yang meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj itu
dialami Nabi Muhammad dengan badannya adalah mengacu kepada Abu Bakar
Shiddiq. Ketika itu Abu Bakar ditanya apakah dia meyakini peristiwa
tersebut. Lalu ditanyakan oleh Abu Bakar kepada yang bertanya itu siapa
yang menceritakan hal tersebut. Dijawab oleh yang bertanya kepada Abu
Bakar itu bahwa yang menceritakan hal tersebut adalah Nabi Muhammad.
Dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa kalau Nabi Muhammad yang
menceritakannya, maka ia meyakininya, karena Nabi Muhammad tak pernah
berbohong.
Cara Abu Bakar memersepsi mengenai Isra’ Mi’raj
ini oleh sebagian kalangan dinyatakan bahwa beragama itu tak perlu
berpikir. Padahal jika dicermati bahwa sebenarnya ketika itu Abu Bakar
berpikir dahulu, karena ia menanyakan bahwa siapakah yang menceritakan
hal tersebut. Kalau memang Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia
meyakini kebenaran yang diceritakan oleh Nabi Muhammad itu. Tapi kalau
yang menceritakannya bukan Nabi Muhammad tentunya Abu Bakar takkan
langsung meyakini kebenaran cerita tersebut. Jadi dalam beragama memang
kita harus berpikir, janganlah ikut-ikutan saja. Perintahnya sangat
jelas di dalam al-Quran:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 36)
Logika Keputusasaan tentang Isra' mi'raj
Selama ini dalam
menceritakan Isra’ Mi’raj kalau
kita sudah buntu, maka kita katakanlah bahwa kalau Allah menghendaki,
maka semuanya bisa saja terjadi. Kita takkan mendapatkan pelajaran
apa-apa dengan cara berpikir seperti ini. Padahal peristiwa apapun yang
diturunkan oleh Allah, maka di dalamnya selalu ada pelajaran untuk kita.
Allah berfirman:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (Q.S. Ali ’Imrân [3]: 190)
Kita
diperintahkan untuk menjadi ulil albab, yaitu orang yang menggunakan
akalnya memahami segala peristiwa, sehingga ada pelajaran dari setiap
peristiwa tersebut.
Skenario Isra Mi’raj dan Tafsir Fisik
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ
آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١
“Maha Suci
Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh
Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat” (QS Al Isra:1).
Dalam ayat in, Allah sudah
menjelaskan skenario perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Sehingga
dengan berpatokan pada ayat ini, kita bisa memperoleh pemahaman yang
sangat memadai tentang mukjizat Isra dan Mi’raj tersebut.
Perjalanan Isra’ Mi’raj itu
terdiri dari dua etape: satu etape mendatar (horisontal), sedangkan
satunya lagi adalah etape vertikal ke langit ketujuh. Etape mendatarnya
diceritakan di dalam surah al-Isrâ’ ayat pertama:
Maha Suci
Allah, yang telah memerjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(Q.S. al-Isrâ’ [17]: 1)
Dalam
tinjauan Agus Mustofa (2006:11), setidak-tidaknya ada delapan kata
kunci yang menjadi catatan penting dan menuntut pemahaman kita menembus
batas-batas langit untuk menafsir perjalanan kontroversial ini. Baiklah,
jika kita mencoba untuk menguraikan makna kata-kata tersebut, maka akan
menjadi seperti ini:
Pertama , ayat ini dimulai dengan kata “
subhânalladzî”. Kata “
subhânallâh”
diajarkan kepada kita untuk diucapkan pada saat kita menemui peristiwa
yang menakjubkan, yang memesona, yang hebat, yang luar biasa. Artinya,
dengan memulai cerita itu menggunakan kata “
subhânalladzî”
sebenarnya Allah menginformasikan bahwa cerita yang akan diceritakan
tersebut bukanlah cerita yang biasa, melainkan cerita tersebut adalah
cerita yang luar biasa dan menakjubkan.
Kedua, aitu kata “
asrâ”. Penggunaan kata “
asrâ”
memiliki beberapa makna. Yang pertama bahwa itu adalah perjalanan
berpindah tempat. Jadi penggunaan kata ini mengcounter pemahaman ataupun
kesimpulan yang menyatakan bahwa pada perjalanan tersebut Rasulullah
tidak berpindah tempat. Yang kedua maknanya bahwa pada perjalanan itu
Rasulullah diperjalankan, bukanlah berjalan sendiri, dan bukan juga atas
kehendak sendiri, karena peristiwa ini terlalu dahsyat untuk bisa
dilakukan sendiri oleh Rasulullah.
Ketiga, yaitu kata “
’abdihi”
yang artinya adalah hamba Allah. Hamba terhadap majikan adalah seorang
yang tak berani membantah, taat, seluruh hidupnya diabdikan untuk
majikannya, untuk Tuhannya. Yang bisa mengalami perjalanan hebat ini
bukanlah manusia yang kualitasnya sembarangan, melainkan manusia yang
kualitasnya sudah mencapai tingkatan hamba Allah, yaitu manusia seperti
Nabi Muhammad. Karena itulah, kita mungkin tidak bisa menerima ketika
Nabi Muhammad digambarkan mendapat perintah salat 50 waktu, kemudian
beliau menawar perintah tersebut kepada Allah. Anjuran tawar-menawar itu
datangnya dari Nabi Musa. Digambarkan bahwa tawar-menawar itu terjadi
hingga sembilan kali Nabi Muhammad bolak-balik menemui Allah, yang
akhirnya perintah salat fardu yang diterima Nabi Muhammad menjadi lima
waktu saja sehari semalam.
Kita mungkin tak sampai hati
membayangkan Nabi Muhammad yang begitu taat kepada Allah yang tak pernah
membantah kalau mendapat wahyu dan perintah dari Allah yang dalam
cerita versi ini digambarkan sampai sembilan kali tawar-menawar dengan
Allah untuk mengurangi jumlah salat fardu yang diperintah-Nya.
Digambarkan pada cerita versi ini bahwa Nabi Musa lebih superior
dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad dipingpong oleh Nabi
Musa bolak-balik menemui Allah memohon agar jumlah salat fardu yang
diperintahkan Allah itu dikurangi. Tentunya patut pula kita ingat bahwa
Nabi Musa adalah nabinya bani Israil (sebetulnya juga nabinya umat
Islam/umat Nabi Muhammad), tetapi orang-orang bani Israil tidak mau
menerima Nabi Muhammad. Bagi bani Israil, Nabi Musa lebih hebat
dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga dalam cerita versi ini Nabi
Muhammad dipingpong saja. Jadi ini indikasinya adalah hadis Israiliyat.
Keempat , yaitu kata “
laylan”
yang artinya adalah perjalanan malam di waktu malam. Hal ini
menunjukkan sebagai penegasan bahwa perjalanan malam itu tidak sepanjang
malam, melainkan cuma sebagian kecil dari malam. Sehingga diriwayatkan
di beberapa hadis, bahwa ketika Rasulullah berangkat dari rumah
meninggalkan pembaringan, kemudian menuju ke Masjidil Haram, dan
kemudian terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Ketika Rasulullah
kembali lagi ke rumahnya, ternyata pembaringannya masih hangat. Hal ini
menunjukkan bahwa ketika itu beliau tidak lama meninggalkan rumahnya. Di
hadis yang lain juga diceritakan, bahwa ketika Rasulullah meninggalkan
rumahnya, beliau menyenggol tempat minumnya kemudian tumpah, dan
ternyata ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, air dari tempat
minum yang disenggolnya itu masih menetes. Hal ini menunjukkan bahwa
sebetulnya Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah itu berlangsung dalam
waktu yang sebentar dan cepat.
Bayangkanlah, perjalanan
semalam saja masih sulit diterima, apalagi perjalanan yang hanya sekejap
yang itu mungkin hanya beberapa menit, atau mungkin hanya beberapa
detik.
Kelima,
minal masjidil harâmi ilal masjidil aqsha (dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa). Mengapa perjalanan Rasulullah ini
dari masjid ke masjid? Mengapa pula tidak dari rumahnya atau dari Gua
Hira ke tujuan lain yang bukan masjid (dari tempat yang bukan masjid ke
tempat lain yang bukan masjid juga)?
Patut diketahui, bahwa masjid
adalah tempat yang menyimpan energi positif sangat besar. Dengan kamera
aura yang bisa memfoto dan memvideokan sesuatu, jika ada orang yang
sedang berzikir ataupun membaca al-Quran, ternyata orang tersebut
memancarkan cahaya yang terang benderang. Berbeda halnya dengan orang
yang sedang marah, depresi, ataupun stress, maka orang tersebut akan
memancarkan cahaya berwarna merah. Warna aura ini bertingkat, yaitu dari
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, sampai warna putih.
Setiap kita memancarkan energi. Akan terpancar energi dari setiap
aktivitas yang kita lakukan, dan energi itu menancap di tempat kita
berada ketika itu. Energi itu membekas, sehingga seluruh aktifitas kita
akan terekam. Allah berfirman:
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qâf: 18)
Raqib
dan Atid kemudian dijadikan sebagai nama malaikat yang mencatat amal
kebaikan dan keburukan. Rekaman tersebut di ruang tiga dimensi, dan
suatu ketika akan diputar lagi. Allah berfirman:
Sesungguhnya
kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan
daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari
itu amat tajam. (Q.S. Qâf: 22)
Di pengadilan akhirat itu, manusia akan bisa melihat seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia.
Masjid
mengandung energi positif sangat besar, terutama masjid yang sering
digunakan sebagai tempat beribadah. Semakin sering, semakin banyak, dan
semakin khusyuk, maka energinya akan semakin besar. Rasulullah berangkat
dari masjid menuju ke masjid. Terminal keberangkatannya di masjid
Keenam,
bâraknâ hawlahu (yang
telah Kami berkahi sekelilingnya). Allah memberkati sepanjang
perjalanan itu, hal ini karena perjalanan itu memang membahayakan.
Dengan keberkahan Allah kondisi Nabi tetap membaik
Ketujuh,
linuriyahû min âyâtinâ (agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami).
Dalam perjalanan isra’ mi’raj ketika itu Rasulullah ditunjukkan
berbagai peristiwa. Mengapakah bisa seperti itu, sedangkan itu adalah
waktu yang sangat singkat. Itulah yang disebut sebagai relativitas
waktu, yaitu ada perbedaan waktu antara orang yang berkecepatan tinggi
dengan orang yang berkecepatan rendah. Kita mengetahui, bahwa antara
orang yang tidur dengan orang yang sadar (terjaga) itu waktunya berbeda.
Misalnya, ada yang tiba-tiba terlelap tidur yang itu hanya sebentar
(mungkin hanya beberapa detik), lalu yang tertidur itu dibangunkan. Yang
tertidur itu pun terbangun, lalu ia bercerita baru saja ia bermimpi.
Ceritanya itu begitu panjang, seakan-akan mimpinya itu sangat lama,
padahal ia hanya tertidur beberapa detik saja. Begitupun dengan
Rasulullah, meskipun perjalanan yang dialaminya itu hanya berlangsung
sepersekian detik, tetapi beliau ditampakkan berbagai macam peristiwa
oleh Allah. Hal ini karena yang
memberjalankan Rasulullah adalah
Allah yang
tak lain adalah zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Kemahamendengaran dan kemahamelihatan Allah itu ditularkan kepada Nabi
Muhammad, sehingga kemampuan Rasulullah untuk melihat dan mendengar
menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan kata
kunci yang terakhir ( kedelapan ) adalah
innahu huwas samii’ul bashir,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah proses
penegasan informasi kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat ini,
seakan-akan Alalh ingin memberikan jaminan kepada kita bahwa apa yang
telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa? Karena
berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. Maka tak perlu ada keraguan tentang kisah fenomenal ini
(Mustofa, 2006:41).
Selanjutnya mengenai Mi’raj diceritakan pada surah an-Najm 14-18:
(14)
(yaitu) di Sidratil Muntaha. (15) Di dekatnya ada surga tempat tinggal,
(16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya. (17) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling
dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (18)
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar. (Q.S. an-Najm: 14-18)
Di
dekat Sidratil Muntaha, Rasulullah menyaksikan surga. Tentunya tidak
sembarangan orang yang bisa menyaksikan surga, karena sudut padangnya
harus tertinggi di alam semesta ini. Dari dunia tidak kelihatan,
kalaupun kelihatan hanya sebagian. Jadi, kalau kita merasakan
kebahagiaan, maka hal itu mungkin kita telah mendapatkan kebahagiaan
surga, namun hanya sedikit sekali perbandingannya, mungkin bagaikan
setetes air dibandingkan dengan samudera, itu pun setetes airnya dibagi
lagi tak berhingga. Sebaliknya kalau kita menderita, maka itu adalah
penderitaan neraka, namun skalanya tak berhingga.
Lantas
ke manakah Rasulullah melanglang buana? Menyeberangi langit ataukah
beliau langsung masuk ke Sidratil Muntaha yang kita tidak tahu di mana
letaknya.
Betapa besarnya langit angkasa semesta. Apakah
langit? Langit adalah seluruh ruangan alam semesta ini. Matahari
dikelilingi oleh planet-planet, bumi tempat kita tinggal adalah termasuk
salah satu planet yang mengitari matahari. Matahari yang tadinya
kelihatan besar, semakin jauh kita lihat maka semakin kecil. Ketika
matahari yang kita terlihat itu semakin kecil, maka biasanya kita tidak
lagi menyebutnya matahari, melainkan kita menyebutnya bintang.
Matahari
itu ternyata demikian banyaknya, seluruh bintang-bintang itu sebenarnya
adalah matahari. Diperkirakan jumlahnya trilyunan. Matahari-matahari
(bintang-bintang) itu bergerombol membentuk galaksi. Galaksi adalah
gerombolan matahari (bintang), di tengahnya ada matahari yang lebih
besar, dan di sekitarnya ada sekitar 100 milyar matahari (bintang).
Bintang-bintang
itu bergerombol mengitari pusatnya membentuk suatu galaksi. Galaksi
tempat bumi dan matahari kita berada adalah galaksi Bimasakti. Di
sebelah galaksi Bimasakti ada galaksi Andromeda yang isinya diperkirakan
juga 100 milyar matahari. Galaksi-galaksi itu diperkirakan trilyunan
jumlahnya. Para ahli astronomi bahkan sampai kehabisan nama untuk
menyebut galaksi karena saking banyaknya.
Galaksi-galaksi
itu ternyata bergerombol-gerombol lagi membentuk gerombolan yang lebih
besar yang dinamakan sebagai supercluster. Isinya diperkirakan 100
milyar galaksi. Apakah supercluster adalah benda terbesar dan terjauh di
alam semesta, hingga kini belum ada yang mengetahuinya.
Jarak
bumi ke matahari adalah 150 juta kilometer. Kalau dilewati cahaya maka
dibutuhkan waktu 8 menit. Jadi, kalau kita melihat matahari terbit yang
sinarnya sampai ke mata kita, maka cahaya yang sampai ke mata kita itu
sebetulnya bukanlah matahari sekarang, melainkan matahari 8 menit yang
lalu. Cahaya matahari itu berjalan selama 8 menit barulah sampai ke mata
kita. Sementara bintang kembar (Alpha Century) jaraknya dari bumi
adalah 4 tahun perjalanan cahaya. Kalau kita melihat bintang kembar pada
malam hari, maka sebetulnya itu bukanlah cahaya bintang kembar saat
itu, melainkan bintang 4 tahun yang lalu. Di belakangnya lagi ada
bintang yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkanlah kalau
kita mau menuju bintang berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat
tercepat yang dimiliki manusia, misalnya menggunakan pesawat ulang alik
yang kecepatannya 20 ribu kilometer per jam. Apakah yang kemudian
terjadi? Ternyata dibutuhkan waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang
tersebut.
Ternyata bumi kita ini bukanlah benda besar di
alam semesta, melainkan benda yang sangat kecil. Di belakang bintang
berjarak 10 tahun cahaya ada bintang berjarak 100 tahun cahaya, di
belakangnya lagi ada yang berjarak 1000 tahun cahaya, yang berjarak 1
juta tahun cahaya, dan juga yang berjarak 1 milyar tahun cahaya. Yang
terjauh diketahui oleh ilmuwan Jepang yaitu yang berjarak 10 milyar
tahun cahaya. Jadi, bumi kita ini hanyalah sebutir debu di padang pasir
alam semesta raya.
Jadi, manusia adalah debunya
bumi, bumi debunya tata surya, tata surya debunya galaksi Bimasakti,
galaksi Bimasakti debunya supercluster, supercluster debunya langit
pertama, karena langit itu ada tujuh (sab’a samawâti). Ilmu astronomi
hanya mengetahui langit itu satu, tapi al-Quran mengatakan langit itu
ada tujuh, karena menurut al-Quran bahwa langit yang kita kenal itu yang
banyak bintang-bintangnya barulah langit dunia (langit pertama). Allah
berfirman: Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan
hiasan, yaitu bintang-bintang, (Q.S. ash-Shâffât: 6)
Sudah
sedemikian besarnya langit pertama, ternyata langit pertama adalah
debunya langit kedua, karena langit kedua itu besarnya tak berhingga
kali dibandingkan langit pertama. Langit ketiga besarnya tak berhingga
kali dibandingkan langit kedua. Begitu seterusnya setiap naik ke langit
selanjutnya selalu tak berhingga kali besarnya dibandingkan langit
sebelumnya, hingga langit ketujuh tak berhingga kali dibandingkan langit
keenam, serta tak berhingga pangkat tujuh dibandingkan langit pertama.
Jadi,
langit pertama adalah debunya langit kedua, langit kedua debunya langit
ketiga, seterusnya hingga langit ketujuh, dan seluruh langit yang tujuh
beserta seluruh isinya hanyalah debu atau lebih kecil lagi di dalam
kebesaran Allah. Beginilah cara al-Quran menggiring pemahaman kita
tentang makna Allahu Akbar. Semestinya menurut al-Quran, bahwa belajar
mengenal Allah itu adalah dari seluruh ciptaan-Nya. Dengan begitu kita
akan mengetahui betapa Maha Besarnya Dia, betapa Maha Menyayangi, Maha
Teliti, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, tak cukup hanya dari lafaznya,
karena kita takkan mendapatkan rasa yang sesungguhnya.
Bayangkanlah
betapa Rasulullah melakukan perjalanan menuju langit ketujuh.
Sebetulnya Rasulullah berjalan ke langit ketujuh itu apakah melintasi
ruang angkasa atau tidak?
Kalaupun badan Rasulullah diubah
menjadi cahaya, maka dari bumi menuju bintang Alpha Century yang
berjarak 4 tahun cahaya, maka Rasulullah membutuhkan waktu 4 tahun untuk
sampai ke bintang Alpha Century, untuk menempuh yang berjarak 10 tahun
cahaya dibutuhkan waktu 10 tahun, untuk menempuh yang berjarak 10 milyar
tahun cahaya dibutuhkan 10 milyar tahun
. Sepertinya Rasulullah
tidak melewati ruang angkasa, melainkan ada ruangan langsung yang tidak
ke sana (tidak ke ruang angkasa) tetapi memahami semua itu. Di manakah
itu?
Ternyata langit kedua terhadap langit pertama tidak
bertumpuk seperti kue lapis (dalam konteks Mi’rajnya Rasulullah). Sering
kita berpendapat dari cerita-cerita klasik bahwa Nabi Muhammad dan
malaikat Jibril menuju ke langit ketujuh dengan cara naik menggunakan
tangga, kemudian bertemu langit yang digambarkan seperti langit-langit,
kemudian di situ ada pintunya dan ada penjaganya. Lalu Malaikat Jibril
dan Nabi Muhammad ditanya mau ke mana oleh si penjaga langit. Dijawab
oleh Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bahwa akan bertemu dengan Allah.
Kalau begitu, berarti Allah itu jauh sekali. Padahal di dalam al-Quran
digambarkan bahwa Allah itu dekat, dan Nabi Muhammad mengetahui itu.
Allah berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat
kepadanya dari pada urat lehernya, (Q.S. Qâf: 16)
Bahkan dinyatakan juga di dalam al-Quran:
Dan
kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (Q.S. al-Baqarah [2]: 115)
Timur dan
Barat milik Allah. Ke manapun kita menghadap, maka kita berhadapan
dengan Allah, karena Allah sedang meliputi kita. Dan Rasulullah tahu
persis akan hal itu. Jadi untuk bertemu Allah tak perlu ke Sidratil
Muntaha. Dan memang Rasulullah ke Sidratil Muntaha bukanlah untuk
menemui Allah, karena Allah sudah meliputi Rasulullah, juga meliputi
kita semua di manapun kita berada.
Tujuanisra’ mi’raj
Isra’
Mi’raj itu sebetulnya bertujuan membawa Rasulullah ke satu posisi yang
paling tinggi untuk memahami betapa dahsyatnya ciptaan Allah. Untuk
apakah semuanya itu? Yaitu untuk memotivasi Rasulullah. Mengapakah
demikian? Karena sebelum Isra’ Mi’raj, Rasulullah sedang berada pada
titik terendah perjuangannya yang paling sulit, yaitu ketika dijepit
oleh orang kafir dan diembargo secara ekonomi. Di saat-saat itu justru
Allah mewafatkan paman Rasulullah (Abi Thalib) dan mewafatkan istri
Rasulullah (Khadijah). Hal ini bukannya tidak sengaja, melainkan
disengaja oleh Allah, karena memang tak ada yang kebetulan di dalam
kehidupan ini.
Semuanya itu justru terjadi pada saat
Rasulullah berada pada titik nadir perjuangannya. Beliau berharap
memindahkan front syi’arnya ke luar kota (yaitu ke Tha’if). Beliau
berharap disambut baik oleh penduduk Tha’if, tapi malah yang terjadi
beliau dilempari batu sampai berdarah-darah. Maka kemudian Allah memompa
kembali semangat beliau, yaitu dengan cara Isra’ Mi’raj. “Muhammad,
engkau adalah utusan Allah,” mungkin seperti itulah yang ingin
disampaikan oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.
Ketika
Rasulullah kembali dari Isra’ Mi’raj, maka setahun kemudian terjadilah
titik balik perjuangannya, yaitu beliau bersama pengikutnya hijrah ke
Madinah, kemudian dari Madinah bisa menaklukkan kota Mekkah.
Peringatan :
- Kisah isra' dan mi'raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya adalah Al-Quran kitab suci kita
- Kisah
mi'raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita sebab dalam
agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu bukan akal yang
dieksprimen dulu , wahyu lebih tinggi dari logika
- kebenaran isra' dan mi'raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi
keatas langit ke 7 sampai sidrotul muntaha tidak menjadi kewajiban
mengetahuinya . yang penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara
yang ril dan sebenarnya wallohua'lam sebab banyak pendapat paradikma
islam dalam hal ini.
- Logikanya isra' itu benar dan logis sekali
,seperti ini . jika Nabi Muhammad adalah milik Allah dan langit serta
alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini Allah yang menghendaki so ,
apa susahnya ?. Simplenya seperti ini . jika anda punya HP lalu kamu
tarok dilantai terus mau kamu pindahkan ke kantong , kelemari , keatas
rak buku . gak susahkan ? kenapa karena pemilik HP adalah anda . coba
kalau teman anda yang punya ? mana bisa kamu geser kemana sesuka hati
kamu .
Demikianlah
artikel isra' mi'raj .yang kami kumpulkan dari berbagai sumber .Semoga manfaat buat sehabat dan teman sekalian . Allah yang Maha Tahu
